Senin, 13 Juni 2011

SADULUR PAPAT KALIMA PANCER




Ana kidung akadang premati
Among tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane
Kakang kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakaken sedya
Pan kuwasanipun
Adhi ari – ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anakaken pangarah//
Ponang getih ing rahina wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken karsane
Puser kuwasanipun
Nguyu – uyu sambawa mami
Nuruti ing panedha
Kuwasanireku
Jangkep kadang ingsun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang


Ada sabda tentang saudara kita yang merawat dengan sungguh – sungguh. Yang memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu, yang menjaga badan saya. Yang menyampaikan kehendak, dengan kuasanya. Dinda ari – ari itu, yang memayungi semua tindakan berdasarkan kekuasaannya/ yang menyampaikan tujuan.
Sedangkan darah siang dan malam membantu Allah yang kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya, memerhatikan sungguh – sungguh diriku, memenuhi permintaanku. Kekuasaannya itu. Maka, lengkaplah saudara saya, kelimanya sebagai pusat. Sudah menjadi satu. Manunggal dengan wujudku.

Demokrasi Pancasila dan Pelaksanaannya dalam Kehidupan Sehari-hari




Demokrasi Pancasila adalah suatu paham demokrasi yang diintegrasikan (diliputi dan dijiwai) oleh sila-sila dalam Pancasila. Identitas demokrasi Pancasila adalah sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Dalam demokrasi Pancasila terkandung 2 9dua) asas pokok, yakni asas kerakyatan dan asas musyawarah mufakat.

Musyawarah mufakat adalah asas atau dasar yang membedakan demokrasi Pancasila dengan demokrasi lainnya, seperti :

   1. Demokrasi liberal yang menganut sistem voting dan dominasi mayoritas.
   2. Demokrasi rakyat yang menganut pemusatan kekuasaan.

Sumber hukum demokrasi misalnya :

   1. Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4
   2. UUD 1945 pasal 1 ayat 2

Pedoman operasional demokrasi Pancasila adalah ketetapan-ketetapan MPRS/MPR. Unsur-unsur yang terkandung dalam demokrasi Pancasila :

   1. Kesadaran bereligius (Ketuhanan Yang Maha Esa) dan menolak atheisme.
   2. Berpangkal kebenaran dan kecintaan kepada tanah air dan bangsa.
   3. Berlandaskan budi pekerti yang luhur dan berkepribadian Indonesia.
   4. Keseimbangan antara individu dan masyarakat, manusia dan lingkungannya serta manusia dengan Tuhannya.
   5. Berlandaskan tinjauan lahir dan batin.

Pelaksanaan demokrasi Pancasila dilandasi oleh semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan sehingga dapat dihindari adanya dominasi mayoritas dan tirani minoritas. Sebagai contoh, dalam mengambil keputusan dilakukan dengan musyawarah untuk mufakat sehingga semua pendapat dapat ditampung, dihargai, dan dibahas untuk kemudian diambil kata sepakat. Oleh karena itu, tidak ada pihak yang kalah atau menang, semua pihak akan merasa puas.

Musyawarah mufakat hendaknya dilakukan dengan :

   1. Semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan.
   2. Mengambil keputusan dengan seadil-adilnya.
   3. Tetap menjaga keselarasan, keserasian, dan kesimbangan antara hak dan kewajiban.
   4. Menghargai dan menghormati pendapat, pikiran atau gagasan orang lain.
   5. Semangat tolong-menolong dan kerjasama untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
   6. Berusaha bersama-sama mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam musyawarah mufakat adalah :

   1. Setipa peserta harus diberi kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk mengemukakan pendapat.
   2. Pendapat yang dikemukakan mempunyai kesediaan mendengar dan mempertimbangkan pendapat orang lain.
   3. Tiap peserta harus mempunyai kesediaan mendengar dan mempertimbangkan pendapat orang lain.
   4. Tujuan keputusan yang akan diambil haruslah untuk kepentingan bersama dengan memperhatikan kepentingan tiap-tiap anggota sehingga harus dicari keselarasan antara kepentingan bersama dan kepentingan individu.

B. Kehidupan yang Berasaskan Musyawarah Mufakat

Secara ideal konstitusional wajah demokrasi Pancasila bersumberkan pada tatanan nilai sosial dan budaya bangsa. Adapun identitas demokrasi Pancasila adalah pada sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, yang dijiwai oleh sila-sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sila kemanusiaan yang adil dan beradab, sila persatuan Indonesia dan menjiwai serta meliputi sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Adapun di dalam sila keempat Pancasila itu terkandung makna bahwa untuk menyelesaikan persoalan atau masalah hendaknya ditempuh dengan jalan pembahasan bersama atau ditempuh dengan musyawarah mufakat. Untuk itu, rakyat Indonesia mempunyai cara sendiri dalam menyelesaikan masalah-masalah ini. Hal ini dapat dilihat dalam praktik kehidupan sejak jaman nenek moyang kita dulu bahwa manusia selalu hidup bersama, hidup dengan manusia lain, hidup dengan lingkungan alam, adat istiadat yang dapat mempengaruhi cara hidup manusia. Paham demokrasi bukan merupakan hal yang baru di Indonesia, karena paham ini sesungguhnya telah mendarah daging pada rakyat Indonesia.

Adapun yang dimaksud dengan musyawarah adalah pengambilan keputusan secara bersama atas dasar saling menghormati, menghormati setiap pendapat yang dikemukakan. Singkatnya musyawarah adalah cara merumuskan sesuatu hal berdasarkan kehendak rakyat. Hal tersebut sudah dipraktikkan sejak dahulu di kalangan adat bahkan sampai sekarang, dan merupakan anjuran untuk dilaksanakan dalam lembaga-lembaga pemerintahan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan musyawarah sesuai dengan sifat dan sikap bangsa Indonesia.

C. Meningkatkan Pengalaman Demokrasi Pancasila dalam Berbagai Kegiatan

Demokrasi Pancasila tidak hanya diterapkan dalam kehidupan politik yang mengatur tentang masalah politik negara, tetapi juga mengatur masalah-masalah yang menyangkut kehidupan ekonomi, sosial, dan kebudayaan.

Hal itu berarti demokrasi Pancasila dapat dikembangkan dan diamalkan dalam berbagai kegiatan hidup, baik kegiatan di bidang kehidupan beragama, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya maupun pertahanan dan keamanan.

WUJUDE MATI




Johar awal mayit iku/
Sasmita sirna ananing/
Ya iku kang pati padha/
Mangkono yen wis mati/
Donya urip ing akerat/
Tlung dina perkara dadi//
saking bapa saking babu/
ba pangeran tunggal katri/
yeku sasmita tlung dina/
kang titipan pitung ari/
mulih iku kang titipan/
titipan kadi ing nguni//
pan taukid makripatipun/
titipan sadasa katri/
iku iya kang titipan/
semune kang pitung ari/
yen nangis ngetoken toya/
sing cipta netra yeku rip//
lir duk uninge saking nur/
king cahya pinaka neki/
iku semune karuna/
dene mengku iki sami/
sira mati sun kelangan/
mati sirna ngawandesi//
kadi pundit sewonipun/
sami wrasta ing sakehing/
ALLAH MUHAMMAD pan tunggal/
Nyatus tunggal wujud neki/
Sasmita oleh ing cahya/
Cahyane Muhammad jati//
Tunggal karo yen manuwun/
Ruh jasad ilang sajroning/
Pangayune sewu dina/
Nora ana ingkang keri/
Olihe sampun sampurna/
Sampurna kaya duk uning//


Terjemahan

Johar awal orang yang mati itu, adanya isyarat hilangnya “ananing”. Itulah tanda bagi yang mengalami mati. Setelah mengalami mati di dunia, selanjutnya hidup di akhirat. Kurang lebih tiga hari dari kematian, terjadilah perubahan hidup.
Dari ayah dan ibu, serta dari Tuhan adalah tritunggal untuk kehadiran manusia. Itulah yang dimaksud sasmita tiga hari. Setelah dalam titipan selama tujuh hari, maka dikembalikan titipan itu, seperti sedia kala.

Bukankah tauhid itu sarana makrifat. Itulah titipan yang ketiga puluh hari. Itu juga termasuk titipan. Kelihatannya yang seperti tujuh hari. Jika menangis, mengeluarkan air mata. Keluar dari mata sebagaimana ketika masih hidup.

Seperti ketika dahulu kala berasal dari nur. Dari cahaya engkau berasal. Itulah yang menimbulkan kesedihan. Semua orang merasakan hal ini. Seperti halnya jika kamu mati, saya merasa kehilangan. Sirnanya kematian pada hari keempat puluh.

Seperti apa gambarannya, makhluk hidup keseluruhannya. Bukankah ALLAH dan Muhammad itu satu adanya? Seratus pun satu wujud. Air muka karena cahaya. Cahaya hakikat Muhammad.

Sama halnya dalam berdoa. Ruh dan jasad hilang di dalam-Nya. Keselamatannya tercapai pada hari keseribu. Tiada yang tertinggal. Kembali kepada-Nya dengan sempurna seperti sedia kala.

KARAKTER ORANG JAWA



KARAKTER orang jawa tulen yg sederhana, bersahaja, andhap asor,l embah manah, rendah hati, sopan santun kepada sesama, menghormat yg tua menyayang yg muda, jujur, temen, ramah tamah, mengalah pada hal sepele, bila terdesak berani di adu, tunduk patuh dan sumarah kepada sang pencipta,gemar bertirakat (sebuah lelaku suci untuk memahami hakekat jati diri) FIGUR YG BERBUDI PAKERTI LUHUR BOWO LEKSONO=
MIKHUL DHUWUR MENDHEM JERO(menjaga nama baik dan kehormatan keluarga,bkn berarti gila hormat.dan pantang membuka aib pasangan hidup dan semua anggota keluarganya wong sing okeh tirakate lan tansah eling bakal kacek karo spodo padane.manungsa mung sadermo nglakoni yen bisa manungsa kuwi aja nganti kesandunge roto, kebentusing tawang. sak bejo bejane wong sing lali isih bejo wong eling lan waspada. Ojo Dumeh Ing samubarang
RUMUS KEHIDUPAN YANG SELAGI BERSEBAB AKIBAT"BUNGAH KEMBANGING SUSAH,SUSAH KEMBANGING BEBUNGAH"(KEBAHAGIAAN YG BERLEBIHAN AKAN BERBUAH KESUSAHAN,DAN KESUSAHAN ATAU PENDERITAAN AKAN BERBUAH KEBAHAGIAAN)
Sak atos-atose' WATU yen keno tetese' BANYU,mosok gak KIKIS?
ojo ndelok adohe jarak,kabeh nek di lakoni kanti seneng,tulus,ihklas,kerasa cedak,LANGIT KAE' NEK MBOK SAWANG YO CEDHAK,NING NEK MBOK PARANI MBOH TUTUK OPO ORA,ojo kaget,ojo gumunan,jare' mbah SANGKIL,nuturi SI ODI sing bingung dolan opo ora. Kekuatan PIKIRAN, apabila mampu mengendalikan dan menggunakannya,bisa mempengaruhi KEHIDUPAN.